Inspirasi dan Tips

LAYANG-LAYANG
        Di suatu sore, tampak beberapa anak sedang bermain layangan. Salah satu layang-layang berkata dalam hatinya “Aku kesal... Aku mau terbang tinggi, setinggi-tingginya, tanpa ada yang menahan. Tapi kenapa aku harus diikat dengan benang? Aku jadi tidak bisa terbang dengan bebas!”
Angin pun lalu bertiup kencang. “Ah, anginnya kencang”, lanjut si layang-layang.
“Aku akan mendekati layangan lain, supaya benangku bisa putus, sehingga aku dapat terbang tinggi!  Bebass lepass!”
Dengan dorongan angin, si layang-layang pun berusaha mendekati layangan lain, membiarkan benangnya bergesekan dengan benang mereka. Sesaat kemudian, benangnya putus! “Akhirnya , putus juga! Sekarang aku bisa terbang semau gue.., naik tinggi sesukaku!”.
Tapi kemudian, apa yang terjadi?
Kroosaak.. “Lhoh?!??  Kenapa ini? Kok aku jatuh?”. Layang-layang itu jatuh dan tersangkut di atas pepohonan.

“Ah, aku tersangkut! Kenapa begini? 
Bukannya terbang tinggi, aku malah tersangkut di pepohonan” kata si layang-layang sedih.
“Sekarang aku tahu”, lanjut si layang-layang.
“Justru karena aku terikat benang, makanya aku bisa tetap melayang di udara. Ternyata benang itu yang membuat aku bisa tetap terbang”.

     Hati manusia sama seperti layang-layang tadi. Pada dasarnya manusia ingin hidup bebas sesuka hati, tanpa peduli nasihat dan didikan. Sering kita pikir nasihat dan didikan adalah sesuatu yang mengekang. Padahal kedua hal itu sebenarnya sama seperti benang yang mengikat layangan. Itulah yang membuat kita tetap terbang dan berhasil. Saat hati membuat pilihan salah, benang “nasihat dan didikan” menarik  kita tetap berada di jalan yang benar. Saat hati mulai sombong karena keberhasilan, benang “nasihat dan didikan” menarik kita kembali agar rendah hati.

Nasihat dan didikan bisa didapat dari lingkungan sekitar, tetapi yang utama dari Tuhan sebagai sumber nasihat dan didikan yang paling benar. 
Biarkan hati selalu terbuka untuk nasihat dan didikan agar kita dapt terbang melayang.
“Dengarkanlah nasehat dan terimalah didikan, supaya anda menjadi bijaksana di masa depan”.
Sumber:  Andry Hartono, Psikologi+




INIPUN AKAN BERLALU
        Salomo adalah seorang raja yang terkenal dengan kebijaksanaannya. Pada suatu hari, sang raja meminta kepada tukang emasnya yang sudah tua renta untuk menuliskan sesuatu di dalam cincinnya. Raja berpesan , “Tuliskanlah sesuatu yang bisa kamu simpulkan dari seluruh pengalaman dan pejalanan hidupmu, supaya itupun bisa menjadi pelajaran untuk hidup saya”.

Berbulan-bulan si tukang emas  yang tua itu membuat cincin, sulitnya menuliskan apa yang penting di cincin emas yang kecil itu.
Pada akhinya setelah berdoa dan berpuasa, si tukang emas itupun menyerahkan cincinnya pada sang raja. Dan dengan tersenyum, sang raja membaca tulisan kecil di cincin itu, bunyinya: This Too Shall Pass (“Inipun akan berlalu”).

Awalnya sang raja tidak terlalu paham dengan apa yang tertulis di sana. Tapi, suatu ketika, tatkala menghadapi persoalan kerajaan yang pelik, akhirnya ia membaca tulisan di cincin itu dan ia pun menjadi lebih tenang, “Inipun akan berlalu”.
Tatkala ia sedang bersenang-senang, ia pun tak sengaja membaca tulisan di cincin itu, lantas menjadi rendah hati kembali.

Betul, ketika Anda punya masalah besar, kecil atau sedang gembira, ingatlah kalimat itu, “Inipun akan berlalu”. Kalimat ini, kalau direnungkan dengan bijak akan mengantarkan diri kita pada keseimbangan hidup. Tidak ada satupun yang langgeng.
Jadi, ketika Anda punya masalah, tidak perlu terlalu bersedih. Tapi, tatkala Anda lagi senang, nikmatilah selagi Anda bisa senang. Ingatlah. Apapun yang kau hadapi saat ini, “semuanya akan berlalu”.


Jadilah orang yang :

Tetap SEJUK di tempat yang panas

Tetap MANIS di tepat yang begitu pahit ...
Tetap merasa KECIL meskipun telah menjadi besar
Tetap TENANG di tengah-tengah badai yang paling hebat
Tetap MENGANDALKAN TUHAN dalam situasi apa saja. 

Sumber : Edwin, Psikologi+



MANGKUK TANPA ALAS

     Seorang raja dan pengiringnya berpapasan dengan seorang pengemis. 
Sang raja menyapa pengemis ini : “Apa yang engkau minta?”. 
Si pengemis mejawab : ”Tuanku  bertanya, seakan-akan mampu”.  
Sang raja merasa tertantang, “tentu saja aku mampu !”.
Jawaban si pengemis, “jangan sembarangan berjanji Tuan”.
Rupanya dia bukan sembarang pengemis, gumam sang raja. Namun raja tidak merasakan hal itu sebelum akhirnya timbul rasa angkuh dan tak senang pada diri pengemis.

“Apapun juga! Aku orang kaya raya”.
Si pengemis itu mengeluarkan mangkuknya: “Tuanku tolong isi ini”. Raja menjadi geram. Segera ia memerintahkan bendahara untuk mengisi penuh mangkuk dengan emas !

Anehnya, emas dalam pundi-pundi besar itu tidak dapat mengisi penuh  mangkuk. Bahkan seluruh perbendaharaan kerajaan seperti emas, intan berlian dan lain-lain habis dilahap mangkuk sedekah itu. Mangkuk itu seolah tanpa dasar, berlubang.

   Akhirnya Sang Raja jatuh bersimpuh di kaki si pengemis. Terbata-bata ia bertanya “Tolong jelaskan terbuat dari apakah mangkuk ini?”.
Pengemis itu menjawab sambil tersenyum “Mangkuk itu terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang mendorong manusia senantiasa bergelut dalam hidupnya. 
Ada kegembiraan, gairah memuncak di hati, pengalaman kala engkau menginginkan sesuatu. Ketika akhirnya  mendapatkan keinginan semua yang telah diraih, seolah tidak ada lagi artinya. Semuanya  hilang ibarat emas intan berlian yang masuk ke dalam mangkuk yang tak beralas. Begitu seterusnya, selalu kemudian datang keinginan baru. Orang tidak pernah puas.

Raja itu bertanya lagi, “Adakah cara untuk dapat menutup alas mangkuk itu?”.
“Tentu ada, yaitu rasa syukur kepada Tuhan. Jika engkau pandai bersyukur, Tuhan akan menambah berkat padamu”, ucap Si pengemis itu.

Sumber: Greg Edwin, Psikologi+

"SYUKUR"
mengubah segala hal

Rasa syukur membuat hidup kita indah,
Membuat yang sedikit terasa cukup,
Mengubah apa yang kita miliki menjadi cukup dan berharga,
Mengubah masalah menjadi hikmah sarat nilai,
Mengubah makanan biasa terasa istimewa,
Mengubah rumah yang sempit serasa lapang dan nyaman,
Mengubah kegagalan menjadi pelajaran berharga,
Mangubah kekeruhan suasana menjadi kejernihan,
Membuat sesuatu yang tidak enak menjadi enak,
Membuat penolakan menjadi penerimaan,
Mengubah rasa benci menjadi kasih sayang,
Membuat kedamaian di hati,
Menjadikan hari ini terasa damai,
Membuat masa lalu menjadi kenangan, masa depan adalah harapan,
Membuat hidup begitu indah.


Selingan...

"COCA COLA"

Jenenge Sigit, umur 7 tahun, Sekolah kelas 2 SD:
Bapak    : “ Git, iki dhuwit,  kowe nang warung, tukokno coca cola ...
    Nggo Pak’e siji, Mak’mu siji, Kangmas mu siji, kowe siji. 
    Dadi piro kabeh’e Git...?!
Sigit      : Dengan polos Sigit menjawab “Telu pak...”
Bapak    : “Lho piye to.. coba di etung meneh... 
                Pak’e siji, Mak’mu siji, Kangmas mu siji, kowe siji.
    Piro dadine ...?!”
Sigit      : “Telu pak...”
Bapak    : Bapak’e mulai nesu “ Wee... ki bocah bodho men yo.
    Neng sekolah opo ora diajari ngetung... coba dietung sing bener meneh ....!!!
    Bapak siji, Mak’e siji, Kangmas mu siji, trus kowe siji....!!  
    Dadi tuku coca cola piro ?”
Sigit        : Sigit mulai nangis, “ teelu ... pak..”
     “ Aku pingine Sprite kok....!”    
(Susilo Rahardjo)

GELITIK

Tanpa kegiatan atau kesibukan, maka malaspun akan tertanam dalam diri kita. Tanpa mimpi, maka kejatuhan akan berakar dalam diri kita. Semakin lama akarnya akan semakin dalam. Sampai suatu hari, mau berdiripun sudah sangat sulit.

Dalam hidup ini, setiap orang membutuhkan sahabat yang seperti di gambar ini.
KETIKA kamu susah, maka aku akan menjadi penopang. 
KETIKA aku susah, dia akan menjadi penopang. 
KETIKA aku susah, dia akan menjadi penopang. 
KETIKA dia susah, kamu menjadi penopang.
Kalau kamu memiliki sahabat seperti ini, hidup tidak akan ada penyesalan.

Untuk bekerja sama, kita harus melepas keegoisan dan saling menghormati. Untuk bekerja sama seumur hidup, maka harus merubah kebiasaan buruk dan menjadi dewasa bersama. Kalau kita hanya tahu egois dan tidak bisa saling mempersilakan, maka suatu hari kita pun akan kalah. Entah dalam pekerjaan, pernikahan, persahabatan, kita harus belajar menjadi dewasa bersama.

Kadangkala hidup ini Ringan atau Berat, tergantung dari jalan yang kita pilih...

Kadangkala mempunyai berapa banyak sumber daya tidaklah penting, kalau kita tidak tahu CARA menggunakannya, selamanya kita tidak akan pernah merasa cukup.

Kadangkala orang mengulurkan tangannya padamu, belum tentu benar-benar ingin menolongmu.







(fb : Muhammad Farid Wajdi)



SENTILAN 
"JAMU JATI KENDI"
 untuk hidup yg bernilai


1. Jamu : Jaga mulut.  
Maksudnya, mulut dijaga agar tidak mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas. Selain itu menjaga agar mulut tidak makan sembarang makanan. Makanlah makanan yang berguna untuk tubuh. Makan secukupnya, sesuai kebutuhan yang proporsional.

2. Jati : Jaga hati.     
Maksudnya, isilah hati dengan perasaan yang positif. Selalu bersyukur terhadap yang sudah dipunyai dan tidak perlu kecewa dengan yang belum ada. Jangan sampai dipenuhi dan harus dibuang rasa iri, dengki, cemburu, fitnah, dsb.

3. Kendi: Kendalikan diri.     
Hiduplah normal. Pelihara keharmonisan keluarga. Istirahat cukup. Olahraga cukup. Kendalikan emosi, nafsu, keinginan2 yang bukan kebutuhan, ambisi2 yg tidak terukur. 

Monggo dicoba tiap hari dijalani. Saya juga sedang terus menerus belajar membiasakan mengkonsumsi "JAMU JATI KENDI"
Salam WA

Tidak ada komentar: